Kabar Assakinah

Sekolah Islam sebagai Ruang Iqra’: Antara Taklim, Tarbiyah, dan Tazkiyah

Oleh: Engran Ispandi Silalahi, M.Pd.

Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama berupa perintah “Iqra’!”, peradaban Islam dimulai dengan fondasi epistemologis yang mendalam: membaca bukan sekadar mengucapkan kata, tetapi menyerap makna, menggali hikmah, dan menghubungkan makna semesta kepada Tuhan. Dalam konteks ini, sekolah Islam seharusnya menjadi ruang “Iqra'” yang tidak hanya memproduksi lulusan cerdas kognitif, tetapi insan kamil yang memahami dirinya, Tuhannya, dan dunia sekitarnya. Namun, kenyataan hari ini, banyak sekolah Islam terseret ke dalam pusaran industri pendidikan modern yang lebih menekankan aspek kuantitatif daripada kualitas ruhaniyah dan moral.

Kita perlu mengkritik arah pendidikan Islam kontemporer yang cenderung berhenti pada “taklim” sekadar proses transfer ilmu. Padahal dalam tradisi Islam, pendidikan adalah proses holistik yang mencakup taklim (pengajaran), tarbiyah (pembinaan kepribadian), dan tazkiyah (pensucian jiwa). Ketiganya harus berjalan seiring, namun kini seringkali pendidikan Islam hanya terpaku pada pengajaran kurikulum formal dan capaian akademik, dengan sedikit ruang bagi pembinaan karakter atau perenungan spiritual. Akibatnya, lulusan sekolah Islam tak selalu menunjukkan keunggulan moral dan kontribusi sosial sebagaimana mestinya.

Dalam kerangka tarbiyah, pendidikan Islam sejatinya bertujuan membentuk manusia yang utuh yang tidak hanya tahu, tetapi juga mampu menginternalisasi dan menerapkan ilmu dengan adab. Namun proses pembinaan ini membutuhkan keteladanan, kesabaran, dan kesinambungan. Tantangannya, banyak guru tidak dibekali pelatihan spiritual atau mentoring kepribadian. Mereka lebih dibebani administrasi dan target kurikulum, ketimbang menjalankan peran sebagai murabbi. Bahkan, sekolah-sekolah Islam elite pun tak jarang lebih sibuk bersaing secara branding dibanding membentuk murid sebagai insan yang saleh dan produktif.

Tazkiyah, sebagai dimensi pendidikan spiritual, kini makin langka ditemukan dalam praktik pendidikan harian. Penanaman nilai seringkali bersifat sporadis dan simbolik hanya tampil di pelajaran agama, bukan menjadi napas dari seluruh proses belajar. Padahal, Al-Ghazali menegaskan bahwa inti dari pendidikan adalah penyucian hati agar ilmu yang diperoleh membawa manfaat dan tidak menjerumuskan pada kesombongan. Dalam masyarakat modern yang serba kompetitif, dimensi ini harus dipulihkan agar sekolah Islam tidak hanya mencetak manusia produktif secara ekonomi, tetapi juga pemelihara nilai-nilai ilahiyah dan kemanusiaan.

Sekolah Islam seharusnya menjadi ruang pembebasan dari kejumudan berpikir dan penjajahan budaya. Dalam filsafat pendidikan Islam, konsep iqra’ membuka ruang untuk berpikir kritis, merdeka, dan sadar akan realitas. Namun ironi terjadi ketika sistem pembelajaran di sekolah Islam justru mengekang daya kritis siswa. Ujian hafalan mendominasi, sementara diskusi, refleksi, dan pertanyaan mendalam kerap diabaikan. Inilah bentuk pengkhianatan terhadap semangat Iqra’ sebagai instruksi pembebasan akal dan hati.

Harus diakui bahwa tantangan pendidikan Islam saat ini juga terletak pada tekanan globalisasi dan standar pendidikan nasional yang seringkali mengalienasi kurikulum dari semangat dasar Islam. Dalam banyak kasus, sekolah Islam sekadar menambahkan label keislaman dalam paket pendidikan umum, tanpa mengintegrasikan visi tauhid dalam seluruh aspek pembelajaran. Padahal menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan Islam haruslah bersifat integratif, yakni memadukan ilmu, nilai, dan spiritualitas dalam satu kesatuan makna.

Meski demikian, titik terang tetap ada. Beberapa sekolah Islam alternatif dan pesantren modern telah mencoba mengembalikan ruh Iqra’ dengan menekankan pada pembelajaran berbasis proyek, dialog, pembinaan ruhani, dan keterlibatan sosial. Mereka tidak hanya mengajarkan hafalan, tapi juga mengasah kepekaan murid terhadap ketidakadilan, kemiskinan, dan isu-isu global. Ini membuktikan bahwa pendidikan Islam bisa tetap relevan dan visioner bila mengakar pada tradisi dan merespons zaman secara bijak.

Ke depan, reformasi pendidikan Islam harus dimulai dari orientasi. Visi Iqra’ sebagai panggilan pencerahan harus dihidupkan kembali. Sekolah Islam harus menyeimbangkan taklim, tarbiyah, dan tazkiyah dalam setiap aspek pendidikan. Ini memerlukan perubahan desain kurikulum, pelatihan guru sebagai pendidik ruhani, serta pemimpin sekolah yang visioner dan berani melawan arus komersialisasi pendidikan. Pemerintah dan masyarakat pun perlu mendukung kebijakan yang menempatkan sekolah Islam sebagai pusat pengembangan manusia seutuhnya, bukan sekadar institusi pencetak ijazah.

Dengan menjadikan sekolah Islam sebagai ruang Iqra’ tempat manusia belajar membaca dirinya, Tuhannya, dan dunia dengan kesadaran spiritual dan sosial maka pendidikan Islam tidak hanya akan melahirkan ilmuwan, tetapi juga pembaru. Ini adalah bentuk nyata dari kontribusi pendidikan Islam dalam membangun peradaban yang adil, beradab, dan tercerahkan.

Penulis adalah Kadiv Baitul Hikmah Yayasan Assakinah Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *