Program

Mengapa Sekolah Islam Butuh Filsafat Pendidikan Sendiri?

Oleh: Engran Ispandi Silalahi, M.Pd.

Dalam derasnya arus globalisasi pendidikan yang cenderung seragam dan berorientasi pada capaian kognitif, pertanyaan mendasar perlu diajukan: apakah sekolah Islam cukup sekadar meniru model pendidikan Barat yang sekuler dan pragmatis? Jawabannya seharusnya tidak. Sekolah Islam membutuhkan fondasi filosofisnya sendiri yang berpijak pada worldview Islam (ru’yatul Islam lil wujud) agar tidak kehilangan jati diri dan arah peradaban. Tanpa filsafat pendidikan Islam, sekolah-sekolah Islam hanya akan menjadi replika dari sistem sekuler dengan label “agama” sebagai pelengkap etalase.

Filsafat pendidikan bukan sekadar teori abstrak, melainkan fondasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari seluruh kegiatan belajar. Dalam konteks Islam, hal ini mencakup pemahaman tentang hakikat manusia sebagai hamba dan khalifah, sumber ilmu yang berasal dari wahyu dan akal, serta tujuan pendidikan untuk membentuk insan kamil, bukan sekadar pekerja atau warga negara. Oleh karena itu, sekolah Islam butuh filsafat pendidikan sendiri untuk melampaui sekadar fungsi administratif atau kurikuler yang diwarisi dari model kolonial atau kapitalistik.

Namun kenyataan di lapangan sungguh kontras. Banyak sekolah Islam hanya sekadar mengganti seragam, menyisipkan jam pelajaran agama, dan memulai hari dengan doa, tetapi tetap memakai paradigma pendidikan Barat: nilai diukur dari angka, tujuan belajar hanya untuk lulus ujian, dan guru dinilai dari seberapa cepat menuntaskan silabus. Di sinilah kontradiksinya: substansi Islam belum sepenuhnya menjadi jiwa pendidikan. Maka, diperlukan revolusi konseptual yang dimulai dari pengakuan akan pentingnya filsafat pendidikan Islam yang utuh dan menyeluruh.

Sebagaimana ditegaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, tujuan utama pendidikan Islam adalah ta’dib, yaitu pembentukan adab sebagai manifestasi dari ilmu dan amal yang terintegrasi. Ini sangat berbeda dengan tujuan pendidikan modern yang seringkali berorientasi pada kemampuan teknis dan profesionalisme kosong nilai. Al-Attas menegaskan bahwa kegagalan umat Islam di bidang pendidikan bukan karena minim teknologi, tetapi karena kehilangan filsafat ilmu dan tujuan pendidikan yang hakiki (Al-Attas, 1980).

Sekolah Islam juga perlu membangun narasi pendidikan yang selaras dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar. Di satu sisi, kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan sistem pembelajaran daring. Tapi di sisi lain, kita harus memastikan bahwa kemajuan itu tetap dijiwai oleh nilai-nilai tauhid, akhlak, dan kesadaran akan tanggung jawab sosial. Filsafat pendidikan Islam akan menjadi pelita dalam mengarahkan teknologi untuk rahmatan lil ‘alamin, bukan sebagai alat dehumanisasi.

Inspirasi bisa kita ambil dari sistem pendidikan klasik Islam di masa kejayaan peradaban Islam. Ulama-ulama seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, dan Ibn Khaldun merumuskan kerangka filsafat pendidikan yang tidak sekadar normatif, tetapi juga empiris dan aplikatif. Mereka memadukan ilmu agama dan sains, mengintegrasikan dzikir dan pikir, serta menjadikan etika sebagai bagian dari kurikulum. Karya mereka harus kembali dikaji bukan sebagai dokumen sejarah, tapi sebagai strategi pedagogis kontemporer.

Saat ini, ada gelombang kesadaran baru dari berbagai komunitas pendidikan Islam di Indonesia untuk membangun sistem yang lebih berbasis pada filsafat Islam. Lembaga seperti Ma’had Aly, pesantren-pesantren progresif, serta beberapa sekolah Islam terpadu mulai merumuskan kurikulum berbasis nilai. Namun langkah ini harus diperkuat secara sistematis lewat pengembangan teori, riset, dan diskursus publik agar tidak berhenti di level praktik sporadis.

Refleksi pentingnya filsafat pendidikan Islam harus menembus ruang-ruang kebijakan. Kementerian Agama, institusi pendidikan tinggi, dan para pengelola sekolah Islam harus menyadari bahwa tanpa bangunan filsafat yang kokoh, pendidikan Islam akan terus berada dalam posisi reaktif dan subordinatif. Ini bukan soal melawan Barat, tapi soal membangun paradigma alternatif yang relevan, autentik, dan berdaya saing dari basis iman dan ilmu yang benar. Maka, sudah saatnya sekolah Islam tidak hanya berbeda secara label, tetapi juga secara struktur kesadaran. Filsafat pendidikan Islam bukan opsi, tapi keniscayaan. Ia adalah akar yang menghidupi seluruh cabang kegiatan pendidikan, dari kurikulum hingga relasi guru dan murid, dari desain pembelajaran hingga visi institusi. Sekolah Islam yang memiliki filsafat pendidikan sendiri akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berjiwa merdeka, adil, dan beradab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *