Oleh: Engran Ispandi Silalahi, M.Pd.
Di balik deru mesin baja dan latihan militer yang keras, terdapat ruang hening yang menyimpan keteduhan iman dan harapan pendidikan karakter. Hari Selasa, 29 Juli 2025 menjadi momentum penuh makna ketika Yayasan Rumah Tahfidz Assakinah Medan, yang beralamat di Masjid Assakinah, Komplek Citra Garden Medan, melangkah menuju Markas Yonkav 6/Naga Karimata. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni formal, melainkan pertemuan batin dua kekuatan: kekuatan senjata dan kekuatan akhlak, yang bertemu dalam semangat membangun generasi masa depan yang tangguh secara fisik dan jernih secara spiritual.

Kehangatan sambutan Komandan Yonkav 6, Letkol Kav Yudhi Agus Setiyanto, S.Sos., menjadi penanda bahwa militer bukanlah tembok yang tak bisa ditembus oleh nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan. Kunjungan ini menjadi kelanjutan silaturahmi yang terjalin saat sebelumnya Yonkav 6 singgah sepulang dari latihan menembak di Kutalimbaru, Deli Serdang. Kala itu, mereka bersua dan makan siang bersama di Pesantren Mandiri Assakinah, Sikabung-kabung, bersama Kepala Desa Suka Maju. Pertemuan itu meninggalkan jejak, bukan hanya di atas tanah Sikabung-kabung, tetapi juga di hati mereka yang hadir.

Dalam suasana khidmat, diskusi penuh empati terjalin. Yayasan Assakinah dan Komandan Yonkav 6 membuka peluang kerjasama dalam pembinaan spiritual dan karakter anak-anak prajurit. Tidak hanya membentuk karakter melalui pelajaran agama, tapi juga menghidupkan nilai-nilai keikhlasan, disiplin, dan cinta Tanah Air melalui program Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang sudah berdiri di kawasan Yonkav 6, kolaborasi dengan Madrasah Diniyyah Takmiliyah Awwaliyah (MDTA) Assakinah yang dikomandoi ibu Linda Hasibuan, S.K.M. Ini akan menjadi jembatan antara dunia militer yang disiplin dan dunia pendidikan agama yang lembut, untuk membentuk pribadi utuh generasi penerus.

Komitmen Yayasan Assakinah untuk menyediakan tenaga pendidik yang profesional, serta kesiapan Yonkav 6 dalam menyediakan fasilitas dan peserta didik dari kalangan keluarga prajurit, menandai langkah awal sinergi yang strategis dan membumi. Ibarat pedang bermata dua, kerja sama ini tidak hanya memperkuat spiritualitas keluarga prajurit, tetapi juga memperkuat komunitas sekitar. Diperkuat dengan rencana pengiriman marbot terbaik untuk Masjid Ahmad Yani di Markas Yonkav 6, niat ini menjadi teladan bagaimana ibadah dapat dijaga dalam ritme ketat kehidupan militer.
Lebih dari sekadar pembinaan anak-anak prajurit, hadir juga cita besar: pembentukan karakter generasi muda dari kalangan pelajar melalui program retreat bersama AKSI (Akademi Anak Saleh Indonesia), lembaga pendidikan karakter di bawah naungan Yayasan Assakinah yang dikelola oleh ibu Dewi Bunga, S.Pd.I. bersama tim. Program ini mencakup retreat karakter dengan tagline “Sejuta Cinta Bagi Ayah Bunda” dengan penguatan “The Power of Dream” bagi anak-anak dari tingkat SD hingga SMA, yang kelak akan dikenalkan pada nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, dan keimanan dalam lingkungan dan kedisiplinan khas militer. Inilah yang dimaksud oleh Ki Hadjar Dewantara dengan “pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak,” bukan sekadar ajaran, tapi pengalaman batin yang mengakar (Dewantara, 2009).

Atas arahan dan visi Letkol Kav Yudhi Agus Setiyanto, rencana pengabdian lebih luas pun dirintis. Di antaranya adalah kolaborasi pelatihan dan parenting bagi keluarga prajurit, agar nilai-nilai mulia dari keluarga bisa menjadi benteng utama bagi generasi muda. Pendidikan karakter tidak berhenti di sekolah atau pesantren, tetapi bermula dari rumah, sebagaimana ditegaskan oleh hasil riset Lickona (2018) bahwa keluarga adalah sekolah karakter pertama yang paling efektif ketika difasilitasi dengan nilai dan keteladanan yang konsisten.
Kehadiran Ketua Dewan Pembina Yayasan, Ir. H. Fikri Andi Akbar Ginting Suka, bersama Ketua Yayasan, Ustadz Dr. Wahdi Sihombing, M.Pd., memperkuat legitimasi visi tersebut. Rombongan yang hadir bukan hanya membawa program, tetapi juga membawa semangat untuk menjadikan kerja sama ini sebagai jalan dakwah yang kontekstual di lingkungan militer. Tidak semua orang bisa masuk ke ruang seperti Yonkav 6, tapi mereka berhasil masuk dengan membawa semangat kolaboratif yang tulus.
Diskusi berakhir dalam nuansa ibadah yang agung. Salat Zuhur bersama menjadi simbol penyatuan niat di bawah satu langit ilahi. Makan siang pun menjadi sarana melunakkan urat-urat yang tegang oleh perbedaan latar belakang. Cenderamata ditukar bukan sekadar simbol, tetapi perwujudan niat baik yang telah menjadi janji batin untuk terus bersinergi. Sehingga tim media kedua belah pihak termasuk tim media Assakinah Pak Ivan Sugito merasakan dokumentasi telah sempurna diliput. Dalam suasana itulah, lahir pemahaman bersama bahwa peradaban besar tak cukup hanya dibangun dengan senjata dan teknologi, tetapi juga dengan iman, pendidikan, dan karakter luhur.

Seperti disampaikan oleh Al-Attas (1980), pendidikan sejati adalah proses untuk menanamkan adab. Dan adab adalah fondasi dari peradaban. Apa yang dilakukan oleh Yayasan Assakinah dan Yonkav 6 hari ini adalah langkah menuju peradaban itu di mana kekuatan militer dan kekuatan moral bersatu dalam satu tujuan: membentuk manusia seutuhnya, yang kuat dalam tugas, dan lembut dalam nurani.
(Kepala Divisi Baitul Hikmah Yayasan Assakinah Medan)